Halaman

mari kunjungi ini

Kamis, 07 Juni 2012





situs sangiran

Formasi Kalibeng (Pliosen): merupakan perulangan fasies laut mulai dari napal hingga lempung dekat pantai (nearshore deposits) yang ditutupi oleh lower lava. Beberapa perubahan muka laut (sealevel changes) dapat kita rinci secara baik, dan merupakan cekungan laut terbuka ketika itu. Tektonik termasuk erupsi gunungapi, dan perubahan muka laut dapat direkonstruksi dengan baik. Pendek kata, siklus-sekuen stratigrafi berbasis astrostratigrafi dapat diterapkan. Proses pembentukan formasi tersebut di bawah kendali tektonik, muka laut.
Formasi Pucangan/ Sangiran (Plistosen Bawah): yang terdiri dari lempung hitam hingga abu-abu dengan lapisan tipis pasir yang diikuti oleh lapisan-lapisan moluska dan diatomic. Perubahan muka air danau berkaitan dengan iklim, dan genesa keterkaitannya dengan tektonik dan erupsi gunungapi dapat ungkapkan secara baik. Saya interpretasikan, ketika itu sebagai lingkungan tertutup lacustrine. Pada beberapa tempat antara Musium dan irigasi sangat jelas terlihat perubahan cekungan (basin migration) kedua Formasi tersebut, dan dapat diikut berubahnya base-level terkait dengan tektonik. Formasi ini selanjutnya ditutupi oleh grenzbank. Hasil pengamatan, fasies sedimen tersebut dapat dikategorikan sebagai material rombakan, sementara saya sebut sebagai debris flow deposits. Siklus perubahan iklim hubungannya dengan tektonik, erupsi gunungapi, dan evolusi fauna dapat dipelajari secara baik dan rinci.
Formasi Kabuh/ Bapang (Plistosen Tengah): termasuk cekungan sistem fluvial, dan dapat dibedakan menjadi 7 tubuh pasir fluvial (F.1-F.7) yang mengalami pergeseran dari waktu ke waktu, yang selanjutnya dapat dibedakan menjadi 3 kelompok (F1-F-3), (F4 dan F5), dan F6/F7. Pengelompokkan berdasarkan setiap tubuh pasir dikontrol oleh efek berubahnya iklim, tektonik dan erupsi gunungapi. F1 hingga F3 (Kabuh Bawah) mengalami pergeseran sedikit dan menempati lokasi-lokasi tertentu, demikian pula halnya dengan F4/F5 (Kabuh Tengah) dan F6 dan F7 (Kabuh Atas). Kontak ketiga grup atau keolompok tubuh batupasir tersebut belum diketemukan, sehingga dapat diinterpertasikan bahwa elevasi ketika dibentuknya F. Kabuh diantaranya telah mengalami perubahan atau pergeseran alur secara berangsur dan mendadak (umum terjadi pada cekungan fluvial di bawah pengaruh tektonik/ synsedimentaty tectonics). Formasi ini ditutupi oleh upper lahar dan Formasi Notopuro berumur Plistosen Atas.
Dari karakter umum tersebut di atas banyak hal-hal yang perlu diungkapkan, diantaranya:
  1. Perubahan muka laut dan iklim merupakan acuan umur dari setiap Formasi yang ditafsirkan berumur lebuh kurang 100.000 tahun (siklus 100.000 tahun).
  2. .Hubungan perulangan antara tektonik, muka laut, dan iklim di bawah pengaruh aktifitas efek global,. regional, dan lokal dapat diungkapkan, yaitu:
-.Terbentuknya Formasi Kalibeng dan F. Pucangan berindikasikan sebagai tektonik global Plio-Plistosen yang dipengaruhi oleh tektonik regional. Secara global, seharusnya setelah Pliosen atau awal Plistosen hampir semua  cekungan yang terbentuk sebelumnya tidak mengalami proses sedimentasi karena  muka laut drop dengan kondisi kering disamping pola cekungan yang berbed
a dari sebelumnya. Namun Formasi Pucangan yang terbentuk di daerah Sangiran, diduga di bawah pengaruh kuat tektonik regional dan merupakan cikal bakal proses terbentuknya lingkungan lacustrine ketika itu yang diikuti oleh efek erupsi (lower lahar). Oleh karena itu, tidak ada indikasi ketidak menerusan proses di tempat tersebut, yang ada hanya berubahnya lingkungan akibat tektonik regional yang memberi efek terbentuknya lacustrine. Apakah turunnya daerah tersebut akibat gerak sesar regional mendatar atau gerak vertikal perlu dicermati lagi. Untuk membuktikan hal tersebut perlu rekonstruksi perubahan kurva muka laut (F. Kalibeng) dan kurva muka air danau (lake level) (F. Pucangan) terkait perubahan iklim sebagai bukti bahwa pembentukan kedua Formasi tersebut merupakan suatu peristiwa yang berkesinambungan.
.- Perubahan cekungan lacustrine (F. Pucangan) ke lingkungan fluvialtil (F. Kabuh/ Bapang) adalah berhubungan dengan efek tektonik, berubahnya iklim, dan erupsi gunungapi. Collapsed atau akhir tektonik global Plistosen bawah yang dipengaruhi oleh tektonik regional mengakibatkan terjadinya proses terbentuknya cekungan fluvial di utara dan selatan. Di duga efek tektonik regional tersebut adalah diakibatkan oleh sesar mendatar yang membentuk cekungan turun miring di utara dan selatan (stepping basins). Debris flow deposits merupakan bagian bawah F. Kabuh/ Bapang.
-.Bergesernya alur sungai (shifting channel) dalam fluvial sistem merupakan kontrol tektonik. Perubahan sistem cekungan tersebut terkait dengan efek global di bawah pengaruh tektonik regional, sedangkan setiap perubahan tubuh alur sungai dikibatkan oleh tektonik lokjl. Sebaliknya tektonik regional mengontrol terbentuknya kelompok grup F1-F3, F4 dan F5, sertan F6 dan F7.
-.Upper lahar dan F. Notopuro berumur Plistosen Atas adalah terkait dengan tektonik global Plistosen Atas di bawah pengaruh tektonik regional dan erupsi gununga api hingga pada kondisi sekarang.
Rangkaian cerita ringkas di atas, banyak yang perlu didiskusikan lebih lanjut, terutama:
  1. .Pemahaman terhadap peristiwa global, regional, dan lokal (tektonik dan erupsi, serta fluktuasi muka) termasuk perubahan iklim yang sifatnya universal. Hal tersebut penting dalam pendekatan studi stratigrafi moderen, seperti siklus-sekuenstratigrafi.
  2. Pemhaman terhadap stratigrafi khususnya Geologi Kuarter (batas dgn. Tersier, kenapa ada pembagian Plistosen Bawah, Tengah, Atas, dan Holosen). Dan yang penting lagi bagimana hubungannya dengan Indonesia.
  3. Stratigrafi modern, perkembangan dan konsekuensinya
Dari pengalaman tersebut di atas, saya menyimpulkan bahwa batas geologi Kuarter dan Tersier di Indonesia adalah setidak-tidaknya berumur Piacenzian ( Pliosen Atas) kurang lebih 3,6 jt. tahun lalu (tergantung umur F. Kalibeng). Hal ini dikarenakan, sejak diendapkannya F. Kalibeng hingga F. Kabuh adalah merupakan suatu kejadian atau peristiwa yang berkesinambungan tanpa terhentinya proses pengendapan pada kurun waktu yang panjang. Seolah-olah kenampakkan geologi Sangiran merupakan suatu proses sedimentasi yang diikuti oleh pengangkatan yang kemudian tereorsi. Memang betul, komposisi formasi stratigrafinyanya seolah-olah membentuk doming akan tetapi tidak ada sama sekali erosional yang menyebabkan terbentuknya doming tersebut.Yang ada adalah evolusi cekungan yang dikontrol kuat oleh efek tektonik regional dan lokal yang menyebabkan variasi komposisi stratigrafinya demikian. Oleh karena itu, kubah Sangiran terbentuk adalah ulah dari efek tektonik dari waktu ke waktu tanpa hilangnya lapisan secara significan.
Tentunya pemikiran di atas masih jauh dari sempurna, namun setidaknya akan membawa stratgei kita berpikir lebih jauh lagi.
Wassalam,
Herman Moechtar



2 komentar: